Sejak kecil, Pak Mudi yang dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana ini sudah membantu keluarganya mencari makan sendiri. Hingga menginjak usia remaja, beliau ikut orang ke Bandung untuk berjualan siomay. Setelah mendapatkan pembelajaran tentang berjualan siomay, pak Mudi kembali ke Purbalingga kampung halamannya pada saat acara pemilihan lurah. Lalu beliau mencoba meminjam modal kepada lurah yang terpilih untuk membuka usaha, alhasil beliau mendapat pinjaman sebesar Rp 250 ribu. Dengan modal pinjaman tersebut, pak Mudi gunakan untuk membeli gerobak lengkap dengan peralatannya. Dari situlah, pak Mudi mulai berjualan siomay dan usahanya pun mulai berkembang, hingga beliau dapat melunasi pinjaman modalnya. Namun usahanya itu tak jarang pula sepi pembeli, maka untuk menambah penghasilan sesekali pak Mudi menarik becak.
Pada tahun 1987, atas ajakan dari temannya, lelaki kelahiran Banjarnegara 51 tahun ini mencoba peruntungan dari berjualan siomay di Kota Yogyakarta. Di Jogjapun beliau berjualan siomay sembari menarik becak dan menjadi buruh tani. Semuanya pak Mudi lakukan demi menghidupi istri dan enam anaknya. Selain di Jogja, beliau pun sempat berjualan siomay di Pekalongan, Semarang dan Solo. Namun pada tahun 1994 akhirnya pak Mudi beserta anak dan istrinya mengontrak sebuah rumah di Jogja untuk tempat tinggal sekaligus sebagai tempat berjualan siomay. Mulai tahun 1994 tersebut, beliau tidak lagi berjualan siomay keliling dengan menggunakan gerobak.

Dengan latar belakang pendidikan yang hanya kelas 1 SD, pak Mudi mempunyai tekad besar agar dapat menyekolahkan putra-putrinya hingga jenjang yang lebih tinggi. Beliau sangat yakin bahwa Tuhan-lah yang mengatur rizki, pak Mudi tidak pernah takut bersaing dengan beberapa orang yang membuka usaha sama dengannya. Bahkan ada salah satu mantan karyawannya yang bisa sukses dengan membuka usaha yang sama yaitu berjualan siomay. Namun diakuinya, omset tempat usahanya tetap stabil.
Dalam memimpin karyawanpun, beliau mengaku tidak pernah mematok target omset dan sebisa mungkin mengayomi karyawannya. Resepnya adalah sabar kalau punya karyawan. Usahanya tersebut diakuinya tidak menggunakan resep khusus. Beliau hanya berpedoman untuk menjual semurah mungkin, aman dikonsumsi dan alami. Bahkan pak Mudi pun sangat selektif dalam memilih bahan baku.
Disamping rasa siomay yang enak dan bergizi di Siomay Kang Cepot ini juga memberikan keramahan pelayanan pada konsumen, parkir motornya pun murah hanya Rp 500 saja. Di balik kesuksesan Siomay Kang Cepot ada kesabaran, kerja keras, pantang menyerah dan selalu bersyukur yang dimiliki pak Mudi itulah, yang patut kita contoh dalam menjalankan sebuah bisnis dari nol hingga sukses. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi peluang usaha Anda. Salam sukses.
Sumber gambar : tim bisnisUKM
0 komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.
Click to see the code!
To insert emoticon you must added at least one space before the code.